PARADIGMA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Paradigma dalam sistem Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal pendidikan Islam dimulai dari kontak pribadi dan kolektif antara mubalig (pendidik) dengan peserta didiknya setelah komunitas muslim terbentuk di suatu daerah, maka mulailah mereka membangun masjid. Masjid difungsikan sebagai tempat ibadah dan pendidikan. Masjid merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama muncul di samping rumah tempat kediaman ulama atau mubalig. Setelah itu muncullah lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya seperti pesantren, dayah, surau. Nama-nama tersebut walaupun berbeda, tetapi hakekatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan agama. Perbedaan nama adalah dipengaruhi oleh perbedaan tempat. Perkataan pesantren populer bagi masyarakat islam di Jawa, rangkang, dayah, di Aceh, surau di Sumatra Barat. Inti dari materi pendidikan tersebut adalah ilmu-ilmu agama yang dikonsentrasikan dengan membaca kitab-kitab klasik adalah menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya ilmu seseorang.
Namun dalam perkembangan muncul kecemasan aspek molaritas dari dunia pendidikan telah melampaui sisi harapannya. Fenomena kehilangan anak dari segi religiusitas semakin menghantui para orang tua. Kemajuan IPTEK yang sangat mencengangkan ini tidak mampu menjangkau dan mengatasinya justru sering tampil bersebrangan dengan yang diharapkan seharusnya.
Paradigma behafiorisme yang mengembangkan sikologi tanpa ruh berjasa dalam mengantarkan pendidikan dan proses pembelajaran mekanistik, sainstistik, materealistis, dan sekularistik. Penafsiran kembali ayat dan sunnah yang memuat konsep-konse dasar tentang pendidikan, yaitu tarbiah, taklim dan takdied dapat meberi solusi komprehensif terhadap masalh tersebut. Ketiga konsep dasar diintegrasikan sehingga “pendidikan Islam” tampil sebagi suatu sistem yang komprehensif.
BAB II
PEMBAHASAAN
A. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Islam. Isi ilmu adalah teori-teori tentang pendidikan. Ilmu pendidikan Islam secara lengkap isi suatu ilmu bukanlah hanya teori (Nur Uhbiyati, 1998).
Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata al-tarbiyah, namun terdapat istilah lain seakar dengannya, yaitu al-rabb, rabbayani, murobbu, yarabby dan rabbaniy. Sedangkan dalam hadis hanya ditemukan kata rabbany. Menurut Abdul Mujib masing-masing tersebut sebenarnya memiliki kesamaan makna, walaupun dalam konteks tertentu memiliki perbedaan.
Istilah lain dari pendidikan adalah ta’lim merupakan masdar dari kata a’ilama yang berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan.
Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya :
”Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al Baqarah ayat 31)
A. Problematika Paradigmatik
Paradigm ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini mendominasi segala aspek kehidupan diatas permukaan bumi banyak dipengaruhi oleh filsafat Rasionalisme, dan Materialisme. Secara spesifik dalam dunia pendidikan, dasar-dasar filsafat tersebut dikembangkan dan direalisasikan oleh paradigma behaviorisme, suatu paradigma yang tidak memberi ruang yang cukup untuk mengembangkan aspek moralitas manusia secara utuh.
Paradigma behaviorisme hanya mengembangkan proses dan strategi pembelajaran menjadi bersifat mekanisti, sainstinstik, materialistik dan sekuleristik. Tentu saja akumulasi outputnya berupa cetakan manusia setengah jadi, manusia yang kuat, kekear tapi tidak bijak. Mekanistis, berarti bahwa komunikasi edukatif lebih bersifat mekanik, kosong dari sentuhan yang lebih dalam dan esensial bagi hakikat manusia dan kemanusiawiannya. Sainstinstik, berarti pendidikan cenderung hanya mendewasakan ilmu dan teknologi, dan ilmu dinetralkan dari nilai. Materialistik, berarti bahwa keberhasilan pendidikan cenderung lebih diukur dengan takaran kemateriaan, dan keberhasilan proses pembelajaran diukur dengan perilaku yang diamati secara empirik. Sedangkan yang dimaksud dengan sekuleristik adalah adanya dikotomis antara ilmu dan agama, sehingga keduanya tidak pernah dan tidak boleh bertemu.
B. Paradigma Tauhid.
Meskipun Al-Quran telah berusia 15 abad, tapi pendidikan yang dikelola oleh orang islam cenderung dikembangkan dari paradigma behaviorisme. Hal ini merupakan akibat kelengahan dari para ahli pendidikan muslim dalam memformulasikan pendididkan Islam secara utuh. Kebanyakan dari pengkajian pendidikan Islam hanya berkisar sekitar filosofinya saja. Beberapa konseptor pendidikan Islam mengemukakan tiga konsep dalam pendidikan Islam, baik dalam kawasan prinsip dan praktis. Ketiga konsep itu ialah Tarbiyah, Ta’lim dan Ta’dieb.
1. Tarbiyah ( Penataan dan Pengembangan Komunikasi Edukatif)
Merujuk pada QS. 17:24, makna yang paling dominan, tarbiyah ditempatkan sebagai konsep dasar untuk penataan dan pengembangan komunikasi edukatif dalm arti seluas-luasnya. Dalam konsep ini menurunkan empat prinsip, yaitu rabbaniyah, rohmaniyah, rohimiyah, dan ‘adaliyah.
2. Taklim ( Pengembangan Kurikulum dan Sistem Intruksional )
Taklim merupakan konsep dasar pengembangan kurikulum dan sistem intruksional. Ada tiga prinsip yang dikembangkan daripadanya untuk kepentingan tersebut, yaitu wa’diyah, syumuliyah dan tawazuniyah.
3. Ta’dieb ( Penataan Situasi dan Lingkungan Edukatif)
Ta’dieb berarti penerapan adab dalam lingkungan kehidupan yang sesungguhnya. Sebagai salah satu konsep dalam pendidikan, ta’dieb di sini diletakkna sebagai konsep dasar bagi penataan situasi dalam lingkungan edukatif. Konsep ini menurunkan tiga prinsip, yaitu tathbiqiyyah, nidhomiyah, dan irsyadiyah.
C. Tujuaan dan Landasan Pendidikan Islam
Islam berprinsip demokrasi, maka pengajarannya merupakan pengajaran rakyat. Tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama, bukan untuk memberikan pengetahuan umum. Pendidikan Islam juga bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan dan pengkondisian kegiatan kognitif, afektif dan psikomotorik. Karena itu pendidikan memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya. Karena itu pendidikan Islam bertujuan:
1. Membentuk manusia beraqidah (tarbiyah ‘aqidiyah)
2. Membentuk manusia beraklak mulia (tarbiyah khuluqiyah)
3. Membentuk manusia berfikir (tarbiyah fikriyah)
4. Membentuk manusia sehat dan kuat (tarbiyah jismiyah)
5. Membentuk manusia kreatif, inisiatif, antisipatif, dan responsive (tarbiyah am liyah)
Sedangkan landasan Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
1) Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
2) Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
3) Menyadarkan manusia tterhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
D. Sistem Pendidikan dan Pengajaran Islam
1. Langgar
Dua lembaga pendidikan memegang peranan penting pada penyebaran agama Islam di pulau jawa, yakni “Langgar dan Pesantren”. Pengajaran dilanggar merupakan pengajaran agama permulaan. Mula-mula murid-murid mempelajari abjad arab, kemudian mengejah ayat-ayat al-quran pertama dengan suara tertentu. Pelajaran diberikan dengan sistem sekepala, guru menyebutkan sesuatu dan murid menirunya, yang dicita-citakan ialah dapat membaca al-quran sampai tamat.Lama belajar tidak tentu, biasanya berlngsung kurang lebih satu tahun. Tetapi kadang-kadang hanya diikuti selama beberapa bulan saja. Biasanya pelajaran diberikan pada pagi hari dan malam hari, berlangsung kira-kira dua jam lamanya. Biasanya yang menjadi gurunya adalah seseorang yang sudah memiliki pengetahuan agama yang agak mendalam. Guru itu tetap dipandang sebagai orang yang sakti, murid-murid tidak boleh mengencam kepada guru, karena dianggap berdosa. Uang sekolah tidak dipungut bagi pelajaran agama permulaan itu. Bila seseorang murid sudah menamatkan pelajarannya dalam arti sudah dapat membaca al-quran sampai tamat, maka diadakan selamatan atau biasa disebut khataman.
2. Pesantren
Pengajaran yang lebih lanjut dan lebih mendalam diberikan dipesantren. Murid-muridnya dinamakan santri, pada umumnya terdiri dari anak-anak yang lebih tua dan telah memiliki pengetahuan dasar, yang mereka peroleh dilanggar. Para santri yang biasa berasal dari berbagai tempat, dikumpulkan dalam satu ruangan yang disebut pondok (semacam asrama). Berdekatan dengan pondok berada masjid dan rumah guru. Biasanya guru lazim dipanggil ajengan atau kiyai, adakalanya guru menerima sumbangan dari murid-muridnya berupa uang atau bahan makanan. Sumbangan itu betul-betul merupakan kerelaan dari santrinya. Guru hidup bersama santri-santrinya, adakalanya santri-santri itu harus memasak makanan sendiri-sendiri.
Untuk itu mereka membawa bekal dari rumahnya masing-masing berupa beras, uang dan alat-alat menanak nasi. Lama belajar disini tidak menentu, ada yang 1 tahun, tetapi ada juga yang sampai 10 tahun atau lebih. Banyaknya santri yang belajar pada beberapa pesantren, pelajaran pertama diberikan pada pagi hari, sesudah selesai sembhayang shalat subuh. Sesudah itu para santri melakukan kerja bakti bagi gurunya, seperti membersihkan halaman, berkebun, berkerja disawah dan sebagainya. Sesudah makan siang semua beristirahat, untuk kemudian dimulai lagi dengan pelajaran dan diselilingi dengan menghafal. Ba’da magrib atau ba’da isya dimulai lagi dengan pelajaran.
Mata pelajaran yang terpenting adalah :
1. Usuluddin ( pokok-pokok ajaran kepercayaan )
2. Usul Fiqh ( alat pengali hukum dari quran dan hadits)
3. Fiqh (cabang dari usuluddin)
4. Ilmu arobiyah ( untuk mendalami bahasa agama )
Di Sumatera barat tidak ada pemisahan antara langgar dan pesantren. Sekolah-sekolah agama disana diberi nama surau. Di Aceh sekolah agama semacam itu disebut Rangkang. Dari uraian diatas jelaslah bahwa pesantren (surau atau rangkang) itu banyak menunjukan persamaan dengan pusat-pusat pendidikan di India. Kalau ada perbedaan hanya terletak pada bahan pengajaran saja dan juga pada murid-muridnya. Pengajaran islam diikuti oleh setiap orang yang menghendakinya.
E. Sifat Pendidikan Islam
Sifat Pendidikan Islam didasarkan pada:
1. Robbaniyah, seluruh aspeknya didasarkan pada nilai robbaniyah dijabarkan dalam Kitabullah dan Sunnah RasulNya.
2. Syamilah, pendidikan dibangun dengan memperhatikan segala aspek dalam kehidupan baik akal, jasad dan ruh, maupun dalam kerangka hubungan individu dengan masyarakat, alam dan al Khaliq. Tanpa pemisahan.
3. Mutakamilah, Pendidikan tidak terbatas pada tempat tertentu. Berlangsung di sekolah, masjid, rumah, di jalan, di kebun, medan pertempuran bahkan di pasar.
4. Marhaliyah, Seluruh tabiat alam terjadi secara bertahap, demikian pula perkembangan fisik dan psikis manusia. Karena itu pendidikan dibangun dengan sifat bertahap dan mengikuti perkembangan kematangan manusia.
5. Fardhiyah, Islam mewajibkan setiap individu untuk menuntut ilmu. Implikasinya, berarti melibatkan semua pihak untuk mempersiapkan segala perangkat, sarana dan perlengkapan pendidikan sebaik-baiknya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bersamaan masuknya agama Islam ke Indonesia masuk pula kebudayaannya. Pengaruh kebudayaan Islam meliputi semua segi kehidupan, termasuk pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia muslim yang sholeh (berakhlak) yang baik. Ada dua lembaga pendidikan penting pada penyebaran agama Islam yakni : langgar dan pesantren disusul kemudian adanya madrasah. Pendidikan agama Islam tidak terbatas, siapapun boleh mengikuti lembaga pendidikan Islam, sifat pendidikan demokratis dan pengajaran unuk rakyat. Di suatu tempat seperti di Sumatera Barat tidak ada pemisahan antara langgar dan pesantren, di sini sekolah agama Islam disebut “surau”. Kemudian sekolah-sekolah Islam berkembang dan mendirikan bangunan sekolah yang disebut madrasah.
Dari penjabaran diatas, paradigma pendidikan Islam yang saat ini cenderung kearah behaviorisme kita kembalikan lagi pada paradigma Tauhid yang sesuai ajaran Islam. Paradigma Tauhid menempatka yang ghaib (Allah) sebagai awal dan akhir dalam perjalanan ini yang melalui beberapa jalan yang sesuai penjelasan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, M.A.1997.Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Djumhur. 1959. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV Ilmu Bakti
Haidar Putra Daulay. Sejarah Pertumbuhaan dan Pembaharuaan Pendidikan Islam di Indonesia.
Zuhairini. Dra, dkk., 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar