BAB V
APRESIASI KARYA SASTRA SEBAGAI KEGIATAN MEMBACA
A. HAKIKAT DAN RAGAM MEMBACA DALAM APRESIASI SASTRA
Dalam upaya pemahaman unsur-unsur yang terdapat dalam suatu cipta sastra, hendaknya seorang apresiator dapat memahami hakikat membaca sebelum melakukan apresiasi. Dalam teori membaca Todorov, memberikan batasan dalam kegiatan membaca suatu cipta sastra, diantaranya : 1) proyeksi, 2) komentar, dan 3) puitika.Dalam tahap proyeksi, kegiatan pembaca adalah memahami unsur-unsur di luar teks, tetapi yang secara kongruen atau secara laras dan bersama-sama menunjang kehadiran teks. Unsur-unsur itu meliputi kehidupan pengarang, kehidupan sosial masyarakat, yang melatari kehidupan teks sastra serta sistem konvensi yang dianuti pengarangnya.
Dalam tahap komentar, seorang pembaca memahami isi paparan teks yang terbatas pada bentuk paparan yang “tersisa” dari jangkauan pemahaman pembaca. Oleh karena itu, ada tiga tahap kegiatan yang terdapat dalam komentar, yakni:
1) Eksplikasi, yakni menguraikan isi paparan yang belum dipahami dengan
jalan menghubungkannya dengan isi bagian paparan lain yang sudah dipahami.
2) Elusidasi, yakni menerangkan secara jelas hasil uraian isi paparan yang belum dipahami dalam kaitannya dengan bagian isi paparan yang lainnya ssecara umum.
3) Précis, yakni meringkas uraian panjang lebar tentang isi paparan yang
belum dipahami sesuai dengan ketepatan dan keselarasannya dengan isi
dalam bagian lain dari teks itu sendiri. Kegiatan terakhir adalah
paraphrase.
Pada tahap puitika, pembaca harus berusaha memahami kaidah-kaidah abstrak yang secara instrinsik terdapat dalam teks sastra itu sendiri. Dalam hal ini, kaidah abstrak tersebut dapat dipahami melalui dua tahap kegiatan, antara lain, 1) interpretasi, dan 2) deskripsi. Interpretasi terhadap makna dalam teks sastra dalam hal ini harus bertolak dari realitas yang ada dalam teks sastra itu sendiri. Tahap kedua adalah deskripsi. Meskipun deskripsi itu tampak terlalu ilmiah untuk mengkaji ragam seni, tetapi menurut Todorov, isitilah tersebut memiliki nuansa arti sendiri. Bila dalam metode deskriptif adalah metode yang bertujuan memberikan perolehan realitas yang diteliti apa adanya, maka tahap pendeskripsian makna dalam teks sastra diharapkan sepenuhnya bertolak dari makna yang terkandung dalam teks sastra itu sendiri.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa ragam membaca yang berkaitan dengan kegiatan mengapresiasi cipta sastra, yakni:
1. Membaca Teknik
Membaca teknik merupakan kegiatan membaca yang dilaksanakan secara bersuara sesuai dengan aksentuasi, intonasi, dan irama yang benar selaras dengan gagasan serta suasana penuturan dalam teks yang dibaca. Dalam kegiatan membaca sastra, dapat dijumpai dalam membaca poetry reading sastra secara lisan memiliki sifat redeskriptif. Dalam membaca redeskriptif itu, bunyi ujar tidak muncul secara sewenang-wenang. Tetapi, harus mampu menggambarkan isi cerita serta suasana yang semula dipaparkan pengarang secara tertulis. Dalam hal ini, kegiatan poetry reading dapat dilakukan meliputi 1) pelafalan, 2) penentuan kualitas bunyi: tinggi-rendah, keras-lunak, 3) tempo, dan 4) irama.
Selain keempat aspek tersebut, membaca secara lisan juga melibatkan aspek tubuh, pembaca juga harus mampu menata gerak mimik atau facial expression, gerak bagian-bagian tubuh atau gesture, maupun penataan posisi tubuh atau posture. Juga, eye contact sebagai salah satu upaya menciptakan hubungan batin dengan pendengarnya juga harus diperhatikan.
2. Membaca Estetis
Ragam membaca estetis juga memiliki kaitan utama dalam mengapresiasi sastra. Membaca estetis merupakan kegiatan membaca yang dilatarbelakangi tujuan menikmati serta menghargai unsur-unsur keindahan yang terpapar dalam suatu teks sastra. Sementara itu, agar dapat dan mampu menikmati dan menghayati, terlebih dahulu pembaca harus mempu memahami isi serta suasana penuturan dalam teks yang dibacanya. Istilah membaca estetis juga sering dikenal dengan membaca indah, membaca emotif, dan membaca sastra. Membaca estetis dapat terwujud lewat kegiatan membaca dalam hati maupun dalam bentuk membaca secara lisan.
3. Membaca Kritis
Membaca kritis merupakan salah satu ragam membaca sastra yang dilakukan dengan menggunakan pikiran dan perasaan secara kritis untuk menemukan dan mengembangkan suatu konsep dengan jalan membandingkan isi teks yang dibaca dengan pengetahuan, pengalaman, serta realitas lain yang diketahui pembaca untuk memberikan identifikasi, perbandingan, penyimpulan dan penilaian. Jadi, dengan membaca sastra, seorang pembaca teks sastra, bukan hanya bertujuan memahami, menikmati, dan menghayati melainkan juga bertujuan memberikan penilaian.
Berdasarkan paparan ragam membaca di atas, terdapat beberapa tahapan
dalam membaca yang dikutip dalam Aminuddin (2002).
1. Tahap Pemahaman Media Bentuk Tulisan
Pemahaman media bentuk tulisan berhubungan dengan tulisan berbentuk huruf, tanda baca, bentuk penulisan paragraf maupun sistematika dalam memaparkan gagasannya.aspek tulisan huruf merupakan kode yang mampu merepresentasikan atau menjadi pengungkap suatu gagasan yang menggunakan media bahasa dalam tes. Aspek tanda baca sebagai penanda, pengatur, dan tatanan huruf yang mengandung gagasan tertentu akan memberikan pemahaman representasi tuturan lisan yang semula berupa penghentian, perintah, pertanyaan dan lain-lain.
2. Tahapan Pemahaman Media Kebahasaan
Istlah gramatikal dalam linguistik, hanya mencakup aspek morfologi dan sintaksis, sedangkan aspek fonologi dan semantik dianggap sebagai unsur eksternal. Akan tetapi, dalam perkembangannya lebih lanjut, aspek fonologi dan semantik juga termasuk intrinsik bahasa karena bagaimana pun juga unsur bunyi dan makna merupakan unsur penting dalam bahasa. Jalan pikiran yang terakhir itulah yang dianut penulis dalam kajian butir ini.
3. Tahap Pemahaman Aspek Leksis-Semantis
Pengertian pemahaman aspek leksis-semantis dalam kajian ini adalah
tahap kegiatan pembaca dalam upaya memahami kata-kata dalam suatu teks, baik secara tersurat maupun tersirat. Hal ini perlu disinggung dalam pembahasan ini karena gagasan yang disampaikan pengarang dapat disampaikan secara eksplisit maupun simbolik. Sajian gagasan demikian, sejalan juga dengan pembagian makna dalam bidang studi semantik yang membedakan antara makna denotatif, yaitu satu lambang satu makna, dan makna konotatif, satu lambang mengimplikasikan berbagai macam makna.
Selain beberapa cara di atas, dalam rangka memahami makna dalam teks sastra, terutama puisi, dalam telaah sastra dikenal adanya beberapa paham, antara lain fenomenologi dan hermeneutika. Dalam fenomenologi, misalnya, dalam upaya memahami makna suatu teks sastra dikenal adanya beberapa tahapan, yakni:
a. Pembaca berusaha memahami realitas yang digambarkan pengarang secara tersurat,
b. pembaca mengidentifikasi satuan realitas apa saja yang benar-benar bermakna atau mengafirmasi,
c. pembaca menahan atau mengurung realitas bermakna dalam kesadarannya,
d. pembaca mengadakan reduksi, yakni penyaringan realitas yang menjadi inti gagasan,
e. pembaca melaksanakan abstraksi untuk menemukan berbagai kemungkinan makna realitas yang masih tersirat,
f. pembaca mengadakan ideasi, yakni menyimpulkan pemaknaan inti realitas sehingga menjadi satuan-satuan yang bermakna,
g. pembaca menyusun pokok pikiran yang terdapat dalam teks sastra yang dibaca.
B. PENDEKATAN EMOTIF
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu dan menarik.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi adanya pendekatan emotif adalah bahwa rutinitas masyarakat yang padat mengakibatkan kejenuhan sehingga memerlukan media untuk menghibur dirinya, di antaranya menikmati cipta sastra itu sendiri. Oleh karena itu, diharapkan pembaca dapat menemukan unsur-unsur keindahan maaupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya sastra.
Selain berhubungan dengan masalah keindahan, juga unsur gaya bahasa
dan pola persajakan juga mempengaruhi suasana hati pembaca. Unsur gaya bahasa seperti metafora, simile maupun penataan setting mampu menghasilkan panorama yang menarik. Masalah pola persajakan juga dapat menghasilkan penikmatan keindahan terhadap karya sastra karena dapat menghadirkan unsur musikalitas yang merdu dan menarik. Penyajian keindahan dalam puisi, selain lewat permainan bunyi sehingga dikenal adanya penyair yang auditif, dapat juga disajikan secara visual, misalnya dengan membuat panorama yang menarik dan indah sehingga juga dikenal adanya penyair yang visual.
C. PENDEKATAN ANALITIS
Pendekatan analitis merupakan suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi munculnya pendekatan analitis adalah 1) Cipta sastra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu, 2) setiap elemen dalam cipta sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lainnya meskipun karakteristik berbeda, 3) dari adanya karakteristik setiap elemen itu, maka antara elemen
yang satu dengan elemen yang lain, pada awalnya dapat dibahasa secara terpisah meskipun pada akhirnya setiap elemen itu harus disikapi sebagai suatu kesatuan.
Kegiatan mengapresiasi sastra dengan menerapkan pendekatan analitis dianggap sebagai suatu kerja yang bersifat saintifik karena dalam menerapkan pendekatan ini, pembaca harus memahami terlebih dahulu landasan teori tertentu, bersikap objektif dan menunjukkan hasil analisis yang tepat, sistematis, dan diakui kebenarannya oleh umum. Namun, kegiatan analisis itu tidak harus meliputi keseluruhan aspek yang terkandung dalam suatu cipta sastra. Dalam hal ini, pembaca dapat membatasi diri pada analisis struktur, diksi atau gaya bahasa, atau mungkin analisis kebahasaaan dalam linguistik.
D. PENDEKATAN HISTORIS
Pendekatan historis merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan adalah anggapan bahwa cipta sastra bagaimana pun juga merupakan bagian dari zamannya. Selain itu, pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat
penting dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah, telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosio-semantik sangat mengutamakan konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi atau zaman maupun konteks kehidupan pengarangnya sendiri.
E. PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS
Pendekatan sosio-psikologis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosiobudaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan sosio-psikologis berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa itu, bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya, serta bagaimana hubungan antara cipta sastra itu dengan zamannya. Oleh karena itu, Sapardi Djokodamono mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan.
F. PENDEKATAN DIDAKTIS
Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan maupun sikap pengarang terhadap kehidupan,. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan
mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan didaktis menuntut daya kemampuan intelektual, kepekaan rasa, maupun sikap yang mapan dari pembacanya. Bagi pembaca pada umumnya, penerapan pendekatan didaktis dalam tingkatan pemilihan bahan yang sesuai dengan pengetahuan maupun tingkat kematangannya akan terasa lebih mengasyikkan. Hal itu terjadi karena pembaca umumnya berusaha mencari petunjuk dan keteladanan lewat teks yang dibaca. Penggunaan pendekatan ini diawali dengaan upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Satuan pokok pikiran itu pada dasarnya disarikan dari paparan gagasan pengarang, baik berupa tuturan ekspresif, komentar, dialog, lakuan maupun deskripsi peristiwa dari pengarang atau penyairnya.
KONSEP APRESIASI PROSA FIKSI
A. UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM PROSA FIKSI
Istilah prosa fiksi seringkali disebut dengan karya fiksi. Yang dimaksud dengan prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
Sebagai salah satu genre sastra, karya fiksi mengandung unsur-unsur meliputi, 1) pengarang atau narator, 2) isi penciptaan, 3) media penyampai isi berupa bahasa, dan 4) elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi menjadi suatu wacana. Pada sisi lain, dalam memaparkan isi tersebut, pengarang akan memaparkannya lewat 1) penjelasan atau komentar, 2) dialog maupun monolog, dan 3) lewat lakuan atau action.
1. Setting
Setting merupakan peristiwa-peristiwa dalam cerita fiksi yang dilatarbelakangi oleh tempat, waktu, maupun situasi tertentu. Namun, setting bukan hanya bersifat fisikal dalam suatu cerita fiksi. Ia juga bersifat psikologis
yang mampu menuansakan makna tertentu serta mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yang menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembacanya. Untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat apa yang tersurat, sedangkan pemahaman terhadap setting yang bersifat psikologis membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran.
Setting yang mampu menuansakan suasana-suasana tertentu terjadi akibat penataan setting yang berhubungan dengan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Suasana penuturan itu sendiri dibedakan antara tone sebagai suasana penuturan yang berhubungan dengan sikap pengarang dalam menampilkan gagasan atau ceritanya, dengan mood yang berhubungan dengan suasana batin individual pengarang dalam mewujudkan suasana cerita. Sementara suasana cerita yang ditimbulkan oleh setting maupun implikasi maknanya dalam membangun suasana cerita disebut dengan atmosfer.
Sewaktu menelaah unsur setting dalaam suatu karya fiksi, terkadang kita menemui kendala dalam hal pengidentifikasiannya. Hal ini tentu saja menyulitkan beberapa penelaah, terutama bagi pemula. Oleh karena itu, berikut ini beberapa hal pertanyaan yang dapat membantu seseorang untuk memudahkan dalam mengidentifikasi setting dalam suatu karya fiksi.
a. Adakah unsur setting dalam karya fiksi yang saya baca?
b. Apabila ada, setting itu meliputi setting apa saja; tempat, waktu, peristiwa,, suasana kehidupan ataukan benda-benda dalam lingkungan tertentu, dan
c. Apakah setting itu semata-mata bersifat fisikal atau berfungsi sebagai dekor saja, ataukah bersifat psikologis, dan
d. Bila bersifat psikologis, kandungan makna apa dan suasana bagaimana yang dinuansakannya.
e. Bagaimanakah hubungan setting dalam karya fiksi yang say abaca dengan tema yang mendasarinya.
Keseluruhan pertanyaan di atas hanya merupakan gambaran umum, karena pada dasarnya tidak semua karya fiksi mampu menampung dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan demikian, sifatnya luwes dan harus disesuaikan dengan karakteristik karya fiksi yang dibaca.
Tang (2007) mengemukakan bahwa berbagai peristiwa dalam sebuah cerita, selalu terjadi dalam suatu rentang waktu dan pada suatu tempat tertentu. Keterkaitan mutlak antara sebuah peristiwa dengan waktu dan tempat tertentu merupakan sebuah gej ala alamiah. Tak satupun makhluk atau apa pun juga namanya, bergerak dalam kehampaan. Secara sederhana, Sudjiman (1992) mengatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan
dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra; semua turut membangun latar cerita.
2. Unsur Gaya dalam Karya Fiksi
Istilah gaya mengandung definisi cara seseorang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Cara seorang pengarang mengungkapkan gagasannya dapat dilihat pada penggunaan wacana ilmiah dan wacana sastra. Dalam wacana ilmiah, seorang pengarang akan menggunakan gaya yang bersifat lugas, jelas, dan menjauhkan unsur-unsur gaya bahasa yang mengandung makna konotatif. Sedangkan dalam wacana sastra, pengarang akan menggunakan pilihan kata yang mengandung makna padat, reflektif, asosiatif, dan bersifat konotatif. Selain itu, tatanan kalimatnya juga mengandung adanya variasi dan harmoni sehingga mampu menuansakan keindahan dan bukan hanya nuansa makna tertentu saja.
3. Penokohan dan Perwatakan
Boulton mengungkapkan bahwa seorang pengarang dapat menggambarkan dan memunculkan tokohnya melalui cara yang beragam. Pengarang dapat menampilkan tokoh sebagai pelaku yang hanya hidup di alam
mimpi, pelaku yang memiliki semangat perjuangan dalam hidupnya,, pelaku yang memiliki cara yang sesuai dengan kehidupan manusia yang sebenarnya maupun pelaku yang egois, kacau dan mementingkan diri sendiri.
Boulton membedakan beberapa peran yang berbeda dalam sebuah cerita fiksi, yakni:
a. Tokoh inti atau tokoh utama adalah seorang tokoh yang memiliki peranan yang penting dalam sebuah cerita;
b. tokoh tambahan atau tokoh pembantu adalah tokoh yang memiliki peranan yang tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama.
Dalam menentukan peran tokoh utama dan tokoh pembantu dapat diketahui melalui beberapa cara yakni,
a. Seorang pembaca dapat menentukannya dengan cara melihat keseringan pemunculannya dalam suatu cerita;
b. juga dapat ditentukan melalui petunjuk yang diberikan oleh pengarangnya. Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya, sedangkan tokoh tambahan hanya dibicarakan ala kadarnya;
c. dapat ditentukan dengan cara melihat judul cerita, misalnya judul Siti Nurbaya.
Sewaktu pengarang menentukan tokoh dalam ceritanya, maka dia juga akan menentukan watak atau karakter tokoh tersebut. Istilah protagonis, biasanya diberikan kepada pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca. Istilah antagonis, yaitu pelaku yang memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca.
4. Alur
Alur dalam karya fiksi merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur sering disebut plot.
Secara khusus, dengan mengutip pendapat Scholes dalam (Tang : 2007) menjelaskan bahwa terdapat tiga elemen penting dalam sebuah alur, yakni : alur aksi/tindakan, alur karakter, dan alur pikiran. Ketiganya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Alur aksi/tindakan, merupakan prinsip perpaduan (sintesis) yakni perubahan sempurna, berangsur-angsur atau mendadak dalam suatu situasi oleh pelaku utama (protagonist), yang ditentukan atau dipengaruhi oleh karakter dan pikiran;
b. Alur karakter, pada dasarnya ini sebuah proses sempurna dari perubahan
dalam karakter moral protagonist, dengan cepat atau lambat dalam tindakan
dan ia menunjukkannya dalam dua sisi yaitu dalam pikiran serta perasaan;
5. Titik Pandang atau point of view
Titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya. Ada empat titik pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya, yakni sebagai berikut:
a. Narrator omniscient, adalah narator atau pelaku kisah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita. Dalam hal ini dia mampu memaparkan sejumlah peran pelaku tentang apa yang ada dalam benak pelaku uatama maupun pelaku lainnya, baik secara fisik maupun psikologis; pengarang sering menyebut dirinya dengan aku, saya, nama pengarang sendiri;
b. Narrator observer, adalah bila pengisah hanya berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku batiniah para pelaku; pengarang menyebutkan nama pelakunya dengan ia, dia, nama-nama lain, dan mereka.
c. Narrator observer omniscient, ialah meskipun pengarang hanya menjadi pengamat dari pelaku, juga merupakan pengisah atau penutur yang serba tahu, meskipun menyebut nama pelaku dengan is, mereka, dan dia. Hal ini mungkin saja terjadi karena pengarang prosa fiksi adalah juga merupakan pencipta dari para pelakunya.
d. Narrator the third person omniscient, ialah pengarang mungkin saja hadir di dalam cerita yang diciptakannya sebagai pelaku ketiga yang serba tahu. Dalam hal ini, sebagai pelaku ketiga pengarang masih mungkin menyebutkan namanya sendiri, saya, atau aku.
6. Tema
Scharbach dalam (Aminuddin, 2002) menjelaskan tema sebagai sebuah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan, seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkannya sehingga pembaca mudah memahami tema pada saat membaca atau selesai membacanya.
BAB VIII
KONSEP APRESIASI PUISI
A. APA ITU PUISI?
Di banyak kalangan, mendefinisikan puisi secara terbuka merupakan hal yang masih sulit dilakukan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendapat tentang puisi. Akan tetapi, perumusan tentang puisi tidak begitu penting, karena yang paling penting adalah pembaca dapat memahami dan menikmati puisi yang ada.
B. MACAM-MACAM PUISI
Melengkapi pengertian puisi di atas, pada bagian ini akan diuraikan tentang macam-macam puisi. Waluyo (1987) membagi puisi menjadi sepuluh macam, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut.
1. Puisi naratif, lirik, dan deskriptif
Pembagian puisi ini didasarkan atas cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.
a. Puisi naratif, yaitu puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair (berisi cerita). Balada adalah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Romansa adalah jenis puisi cerita yang mengungkapkan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahia
dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan.
b. Puisi lirik , yaitu penyair mengungkapkan gagasan pribadinya. Jenis puisi lirik misalnya, elegi, ode, dan serenada. Serenada ialah sajak yang dapat dinyanyikan. Kata ”serenada” berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau keadaan.
c. Puisi deskriptif, yaitu jenis puisi yang mengungkapkan tindakan penyair sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi ini misalnya, puisi¬puisi impresionostik, satire, dan kritik sosial. Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. Kritik sosial adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan penyair terhadap suatu keadaan atau seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/orang tersebut.
2. Puisi kamar dan puisi auditorium
Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suatu atau serangkaian suatu). Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja dalam kamar. Sedangkan puisi auditorium adalah puisi yang cocok untuk pembaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.
3. Puisi fisikal, platonik, dan metafisika
Pembagian puisi ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam suatu puisi. Puisi fisikal bersifat realistis artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual dan kejiwaan. Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan Tuhan. Puisi relegius di satu pihak dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair) di lain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan).
4. Puisi subyektif dan puisi obyektif
Puisi subyektif (puisi personal) adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Adapun puisi obyektif adalah puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri.
5. Puisi konkret
Puisi konkret adalah puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut penglihatan. Bentuk konkret tersebut dapat berupa bentuk grafis, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian kata lewat bentuk grafis. Puisi konkret ada yang berbentuk segitiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, bulat telur, spidle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.
7. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif, sehingga puis ini mirip dengan bahasa sehari-hari. Adapun puisi prismatis justru sebaliknya. Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, verifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna
puisi itu. Namun, makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma.
8. Puisi parnasian dan puisi inspiratif
Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasarkan oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Adapun puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar¬benar terlibat ke dalam puisi.
9. Stansa
Stansa berarti puisi yang terdiri atas 8 baris. Stansa berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam stansa seluruh puisi terdiri atas 8 baris.
10. Puisi demonstrasi dan pamflet
Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufik Ismail dan mereka yang Jassin disebut Angkatan 66. Puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar – KAMMI-KAPPI – sekitar tahun 1966. Menurut Subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966
bersifat kekitaan, artinya melukiskan perasaan kelompok bukan perasaan individu.
Puisi pamflet adalah puisi yang bahasanya menggunakan bahasa pamflet. Puisi ini juga mengungkapkan protes sosial. Kata-kata dalam puisi ini mengungkapkan rasa tidak puas pada keadaan. Kata-kata tersebut muncul tanpa melalui proses pemikiran atau perenungan yang mendalam.
11. Alegori
Puisi yang mengungkapkan cerita dengan maksud untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parabel yang juga disebut dengan dongeng perumpamaan.
C. APRESIASI PUISI
Puisi selalu terkait dengan emosi, pengalaman, sikap, dan pendapat¬pendapat tentang situasi atau kejadian yang ditampilkan secara abstrak atau implisit. Oleh karena itu, pemahaman sebuah puisi juga diperlukan keterlibatan emosi, pengalaman estetis, dan intuisi-intuisi. Bekal semacam itu akan menolong siswa untuk menikmati puisi. Di sinilah letak strategi puisi yang ibarat sebuah tanaman mempesona, penuh arena bermain, penuh hiburan, dan penuh keindahan alamiah yang anggun. Dampaknya, tentu pembelajaran tetap akan berjalan dengan baik tanpa membuat siswa mengawang dalam belajar,
melainkan menikmati.
Terkait dengan hal tersebut, Aftaruddin (dalam Endaswara, 2005) menyatakan bahwa ’peristiwa besar’ menikmati puisi pada hakikatnya menghayati suatu pengalaman secara intens, secara mendalam. Pembelajaran tidak sekadar membaca huruf-huruf, tapi menempatkan diri sebagai pencipta sehingga antara penikmat dengan penyair seakan-akan tidak ada jarak. Konteks itu menghendaki pembelajaran yang sungguh-sungguh ada keterlibatan jiwa, tetapi tetap tidak membuat jiwa tegang. Bahkan, diharapkan pembelajaran tersebut menjadi sebuah momen refreshing.
Suatu istilah yang sering rancu dalam pembelajaran puisi adalah ihwal pengkajian. Pembelajaran puisi tidak menolak pengkajian, namun, ada beberapa perbedaan, dalam pengkajian puisi lebih diarahkan pada penyelidikan, apresiasi lebih menuju ke arah pemahaman. Pemahaman lebih banyak terkait dengan aspek pragmatik penikmatan dan bukan sekadar membedah isi puisi secara mekanik seperti lazimnya seorang peneliti puisi. Dengan modal nikmat, siswa akan paham, karena dalam kejiwaan mereka timbul penghayatan dan pengenalan terhadap puisi. Satu hal yang penting dalam apresiasi puisi adalah bukan hasil (nilai), bukan pula yang telah hafal judul-judul dan pencipta puisi. Namun, apresiasi puisi adalah proses pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan dan penilaian serta
pernyataan yang memberikan penilaian terhadap puisi. Oleh sebab itu, Atmazaki (1993) memberikan penegasan bahwa apresiasi adalah kegiatan: (1) untuk merespon suatu (puisi), melakukan kontak sehingga ada efek, resepsi, dan persepsi, dan (2) memberikan pertimbangan terhadap sesuatu untuk memberikan penilaian.
D. PEMAKNAAN BENTUK LEWAT SEMIOTIKA
Dalam teks, semiotika dipandang sebagai sebuah realitas yang dihadirkan di hadapan pembaca yang mengandung potensi komunikatif. Pemilikan potensi komunikatif ditandai dengan digunakannya lambang-lambang kebahasaan di dalamnya, berupa lambang artistic yang berbeda dengan lambang kebahasaan lainnya.
Upaya pemahaman terhadap lambang teks sastra tersebut sangat beragam. Akan tetapi, sesuai dengan terdapatnya empat dimensi dalam teks sastra, yakni 1) sastra sebagai kreasi ekspresi, 2) sastra sebagai pemapar realitas, 3) sastra sebagai kreasi penciptaan yang menggunakan media berupa bahasa, dan sastra sebagi teks yang memiliki potensi komunikasi dengan pembaca.
Pierce seorang pelopor semiotika membedakan lambang atas tiga bentuk yakni, 1) ikon, yakni bilaman lambang tersebut sedikit banyaknya menyerupai apa yang dilambangkan, seperti foto dari seseorang atau ilustrasi,
2) indeks, yakni bila lambang itu masih mengasosiasikan adanya hubungan dengan lambang yang lain, misalnya rokok dengan api, 3) simbol, yakni bila secara arbitrer maupun konvensional, lambang itu masih menunjuk pada referen tertentu dengan acuan makna yang berlainan.
E. PEMAHAMAN LAPIS MAKNA PUISI
Aminuddin mengungkapkan bahwa lapis makna adalah unsur yang tersembunyi di balik struktur bangun. Unsur lapis makna sulit dipahami sebelum seorang pembaca bisa memahami bangun struktur puisi tersebut. Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual.
Berikut ini diuraikan struktur yang membangun fisik yang terdiri atas dua jenis yakni sebagai berikut:
1. Struktur batin puisi (Hakikat puisi)
Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan puisi. I. A. Richards (dalam Waluyo, 1987) menyebut makna atau struktur batin dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention).
a. Tema
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran tersebut menguasai jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Tema harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep¬konsepnya yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi obyektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat). Ada beberapa macam tema sesuai dengan Pancasila, yaitu: tema ketuhanan, tema kemanusiaan, tema patriotisme/kebangsaan, dan tema keadilan sosial.
b. Perasaan penyair (feeling)
Perasaan penyair (feeling) merupakan faktor yang mempengaruhi dalam penciptaan puisi. Suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Dalam mengungkapkan tema yang sama, antara penyair yang satu akan berbeda dengan penyair yang lain, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda.
c. Nada dan suasana
Dalam apresiasi puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.
Sikap penyair kepada pembaca inilah yang disebut nada puisi.
Adapun yang dimaksud dengan suasana dalam puisi adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada menimbulkan puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.
d. Amanat (pesan)
Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan penyair.
2. Struktur fisik puisi (Metode puisi)
Adapun unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur luar puisi. Berikut akan diuraikan lebih lanjut.
a. Diksi (pilihan kata)
Seorang penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima
dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu.
b. Pengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa.
c. Kata konkret
Untuk membangkikan imaji (daya bayang), maka kata-kata harus diperkonkret. Maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyaran pada arti yang menyeluruh.
d. Bahasa figuratif (majas)
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berfigura sehingga disebut bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.
e. Verifikasi (rima, ritma, dan metrum)
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestra. Dengan pengulangan bunyi itu puisi menjadi merdu
jika dibaca. Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritme berbeda dengan metrum. Metrum berupa pengulangan tekanan kata yang tetap. Metrum sifatnya statis (Waluyo, 1987).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar